Keuangan UMKM

Cara Menghitung HPP untuk UMKM: Rumus, Contoh Kedai Kopi dan Toko Kelontong, sampai Harga Jual

Satu kedai kopi dan satu toko kelontong fiktif: hitung HPP per gelas, tentukan harga jual tanpa tertukar margin dan markup, lalu hitung HPP bulanan dengan stok.

Oleh Tim Budgetku

10 menit baca
Ilustrasi HPP satu gelas es kopi susu fiktif: bahan dan kemasan Rp10.330, upah Rp1.500, biaya produksi Rp425, total HPP Rp12.255 dengan harga jual Rp22.000.
Dalam artikel ini

HPP, atau harga pokok penjualan, adalah biaya langsung dari barang yang terjual. Angka ini dipakai untuk dua hal: menentukan harga jual per produk, dan menghitung laba usaha setiap bulan. Kalau HPP salah, harga jual bisa terlalu murah tanpa disadari, dan laba di laporan terlihat lebih besar dari kenyataannya.

Artikel ini memakai dua usaha fiktif. Yang pertama kedai es kopi susu, untuk menghitung HPP per gelas lalu menentukan harga jual. Yang kedua toko kelontong, untuk menghitung HPP bulanan dengan memperhitungkan stok.

Apa itu HPP?

HPP adalah total biaya yang melekat langsung pada barang yang sudah terjual dalam satu periode. Kata kuncinya terjual. Bahan yang dibeli bulan ini tetapi masih tersimpan di gudang belum menjadi HPP. Bahan itu baru menjadi HPP ketika produknya terjual.

Di laporan laba rugi, HPP menjadi pengurang pertama dari pendapatan:

Laba kotor = pendapatan − HPP

Laba kotor inilah yang dipakai untuk menutup biaya lain seperti sewa, iklan, dan gaji, sebelum tersisa laba bersih. Contoh lengkap susunan laba rugi ada di artikel contoh laporan laba rugi UMKM.

Apa saja yang masuk HPP?

Isinya bergantung pada jenis usaha:

  • Usaha dagang (toko, reseller, grosir): harga beli barang dagangan ditambah ongkos angkut sampai barang siap dijual.
  • Usaha produksi (makanan, minuman, kerajinan, konveksi): bahan baku, kemasan, tenaga kerja yang langsung membuat produk, dan biaya produksi lain seperti gas, listrik untuk mesin, dan penyusutan alat produksi.
  • Usaha jasa: biasanya tidak punya HPP barang. Yang mirip HPP adalah biaya langsung per pekerjaan, misalnya bahan habis pakai atau upah teknisi per proyek.

Yang tidak termasuk HPP: biaya menjual dan menjalankan usaha, misalnya iklan, ongkos kirim ke pembeli, komisi aplikasi pesan-antar atau marketplace, gaji admin, dan sewa toko untuk berjualan. Biaya ini tetap harus tertutup oleh harga jual, tetapi dicatat sebagai beban operasional.

Banyak usaha kecil memakai versi sederhana, yaitu HPP = bahan + kemasan saja, seperti di contoh laporan laba rugi kami. Itu boleh, asal konsisten dari bulan ke bulan. Untuk menentukan harga jual, sebaiknya pakai versi lengkap yang ikut menghitung tenaga kerja dan biaya produksi, supaya upah dan gas tidak terlupa.

Dua rumus HPP yang perlu Anda tahu

1. HPP per unit, untuk menentukan harga jual:

HPP per unit = biaya bahan per unit + kemasan + tenaga kerja langsung per unit + biaya produksi lain per unit

Biaya bahan per unit dihitung dari takaran. Misalnya, kalau 1 kg kopi seharga Rp200.000 dan satu gelas memakai 18 gram, biaya kopinya Rp200.000 ÷ 1.000 × 18 = Rp3.600 per gelas.

2. HPP per periode, untuk laporan bulanan:

HPP = stok awal + pembelian bersih − stok akhir

Pembelian bersih adalah pembelian ditambah ongkos angkut pembelian, dikurangi retur dan potongan dari pemasok. Rumus ini dipakai karena tidak semua yang dibeli bulan ini terjual bulan ini.

Contoh 1: HPP per gelas usaha es kopi susu

“Kopi Teras” adalah kedai es kopi susu gula aren fiktif yang menjual sekitar 1.200 gelas per bulan. Berikut takaran dan biaya per gelasnya.

KomponenKopiHarga beliRp200.000 per kgTakaran per gelas18 gramBiaya per gelasRp3.600
KomponenSusu UHTHarga beliRp20.000 per literTakaran per gelas150 mlBiaya per gelasRp3.000
KomponenGula aren cairHarga beliRp60.000 per literTakaran per gelas25 mlBiaya per gelasRp1.500
KomponenEs batuHarga beliRp10.000 per kantong (20 gelas)Takaran per gelas1/20 kantongBiaya per gelasRp500
KomponenSubtotal bahanHarga beli—Takaran per gelas—Biaya per gelasRp8.600
KomponenCadangan susut 5% dari bahanHarga beli—Takaran per gelas—Biaya per gelasRp430
KomponenCup, tutup, dan sedotanHarga beli—Takaran per gelas1 setBiaya per gelasRp1.300
KomponenHPP sederhanaHarga beli—Takaran per gelas—Biaya per gelasRp10.330

Cadangan susut menutup bahan yang terbuang: susu tumpah, kopi untuk kalibrasi mesin, atau minuman yang harus dibuat ulang. Angka 5% di sini hanya contoh. Untuk usaha Anda, bandingkan pembelian bahan sebulan dengan jumlah produk yang terjual untuk melihat susut yang sebenarnya.

Lalu tambahkan tenaga kerja dan biaya produksi lain. Keduanya dibayar per bulan, jadi dibagi dengan jumlah gelas per bulan:

KomponenHPP sederhanaPer bulan—Per gelas (÷ 1.200)Rp10.330
KomponenUpah barista paruh waktuPer bulanRp1.800.000Per gelas (÷ 1.200)Rp1.500
KomponenListrik dan air untuk mesinPer bulanRp360.000Per gelas (÷ 1.200)Rp300
KomponenPenyusutan mesin dan grinder (Rp7.200.000 ÷ 48 bulan)Per bulanRp150.000Per gelas (÷ 1.200)Rp125
KomponenHPP lengkap per gelasPer bulan—Per gelas (÷ 1.200)Rp12.255

Jadi HPP lengkap satu gelas es kopi susu Kopi Teras sekitar Rp12.255.

Satu catatan: upah barista dan penyusutan nilainya tetap setiap bulan. Kalau penjualan turun menjadi 800 gelas, bagian upah per gelas naik dari Rp1.500 menjadi Rp2.250. Hitung ulang HPP per unit kalau volume penjualan berubah cukup jauh.

Dari HPP ke harga jual

Ada dua cara menghitung keuntungan per produk, dan keduanya sering tertukar:

  • Margin dihitung dari harga jual: (harga jual − HPP) ÷ harga jual.
  • Markup dihitung dari HPP: (harga jual − HPP) ÷ HPP.

Kalau Anda menargetkan margin tertentu, rumus harga jualnya:

Harga jual = HPP ÷ (1 − target margin)

Target margin40%HitunganRp12.255 ÷ 0,6Harga minimumRp20.425DibulatkanRp20.500
Target margin50%HitunganRp12.255 ÷ 0,5Harga minimumRp24.510DibulatkanRp25.000
Target margin60%HitunganRp12.255 ÷ 0,4Harga minimumRp30.638DibulatkanRp31.000

Harga minimum selalu dibulatkan ke atas. Kalau dibulatkan ke bawah, misalnya Rp24.510 menjadi Rp24.500, marginnya turun sedikit di bawah target.

Kopi Teras akhirnya memasang harga Rp22.000, menyesuaikan harga kedai lain di sekitarnya. Dengan harga itu, untung kotornya Rp9.745 per gelas, margin 44,3%, dan markup 79,5%.

Kenapa perbedaan margin dan markup penting? Misalnya pemilik berpikir “ambil untung 50%”, lalu menghitung Rp12.255 × 1,5 = Rp18.383. Itu markup 50%, tetapi marginnya hanya 33,3%. Selisih seperti ini sering membuat usaha yang ramai tetap terasa tidak menghasilkan.

Kalau berjualan lewat aplikasi pesan-antar. Komisi aplikasi bukan HPP, tetapi dipotong dari harga jual, jadi harus ikut dihitung:

Harga jual = HPP ÷ (1 − target margin − persentase komisi)

Dengan target margin 40% dan komisi contoh 20%, harganya Rp12.255 ÷ 0,4 = Rp30.638, dibulatkan ke atas menjadi Rp31.000. Persentase komisi di sini hanya ilustrasi. Cek angka yang berlaku di aplikasi mitra Anda.

Cek titik impas

Titik impas adalah jumlah penjualan saat semua biaya tepat tertutup: belum untung, tetapi juga tidak rugi. Untuk menghitungnya, biaya dipisah menjadi dua:

  • Biaya variabel naik turun mengikuti jumlah gelas yang terjual. Untuk Kopi Teras, ini bahan, susut, dan kemasan, yaitu HPP sederhana Rp10.330 per gelas.
  • Biaya tetap tetap dibayar berapa pun gelas yang terjual. Upah barista, listrik mesin, dan penyusutan termasuk di sini. Di HPP lengkap ketiganya dibagi rata per gelas, tetapi untuk titik impas ketiganya dihitung utuh per bulan.
Biaya tetap per bulanUpah barista paruh waktuJumlahRp1.800.000
Biaya tetap per bulanListrik dan air untuk mesinJumlahRp360.000
Biaya tetap per bulanPenyusutan mesin dan grinderJumlahRp150.000
Biaya tetap per bulanSewa kiosJumlahRp2.500.000
Biaya tetap per bulanIklan media sosialJumlahRp500.000
Biaya tetap per bulanUpah pemilikJumlahRp3.000.000
Biaya tetap per bulanTotal biaya tetapJumlahRp8.310.000

Setiap gelas seharga Rp22.000 menyisakan Rp22.000 − Rp10.330 = Rp11.670 untuk menutup biaya tetap. Angka ini disebut margin kontribusi.

Titik impas = biaya tetap per bulan ÷ margin kontribusi per gelas

Titik impas Kopi Teras = Rp8.310.000 ÷ Rp11.670 = 712,1, dibulatkan ke atas menjadi 713 gelas per bulan, atau sekitar 24 gelas per hari. Dengan penjualan 1.200 gelas, sisa setelah semua biaya sekitar Rp5.694.000.

Jangan memakai HPP lengkap untuk menghitung titik impas. Kalau biaya di luar HPP lengkap (Rp6.000.000) dibagi untung kotor per gelas (Rp9.745), hasilnya 616 gelas. Padahal di 616 gelas, upah barista, listrik mesin, dan penyusutan tetap dibayar penuh, sehingga Kopi Teras justru rugi sekitar Rp1,1 juta.

Perhatikan bahwa upah pemilik sengaja dimasukkan. Banyak pemilik usaha bekerja setiap hari tanpa menggaji diri sendiri, sehingga usahanya terlihat untung padahal belum membayar tenaga mereka.

Contoh 2: HPP bulanan toko kelontong

Toko kelontong tidak menghitung HPP per bungkus mi atau per botol minyak goreng satu per satu. Yang lebih praktis adalah rumus per periode. “Toko Bu Fulanah” adalah toko fiktif yang menghitung stok di hari terakhir setiap bulan.

PosStok awal bulan (hasil hitung)JumlahRp18.000.000
PosPembelian barang daganganJumlahRp42.000.000
PosOngkos angkut pembelianJumlahRp600.000
PosRetur barang rusak ke pemasokJumlah(Rp400.000)
PosPembelian bersihJumlahRp42.200.000
PosBarang tersedia untuk dijualJumlahRp60.200.000
PosDiambil untuk keperluan rumahJumlah(Rp300.000)
PosStok akhir bulan (hasil hitung)Jumlah(Rp16.500.000)
PosHPP bulan iniJumlahRp43.400.000

Dengan penjualan Rp52.000.000, laba kotor Toko Bu Fulanah Rp8.600.000, atau margin kotor 16,5%.

Ada dua hal di contoh ini yang sering terlewat:

  • Barang yang diambil untuk rumah. Mi, gula, atau sabun yang dipakai keluarga pemilik tidak terjual, jadi tidak boleh masuk HPP. Catat nilainya dengan harga beli lalu keluarkan dari hitungan.
  • Stok yang turun. Stok akhir Rp1.500.000 lebih kecil dari stok awal, artinya sebagian barang yang terjual bulan ini dibeli bulan lalu. Kalau HPP dihitung dari pembelian bersih saja, laba kotor terlihat Rp9.800.000, atau Rp1.200.000 lebih besar dari yang sebenarnya. Selisih itu berasal dari stok yang turun Rp1.500.000 dan tidak ikut terhitung, dikurangi barang rumah Rp300.000 yang justru ikut terhitung sebagai biaya.

Beberapa tips menghitung stok:

  1. Hitung di hari yang sama setiap bulan, misalnya hari terakhir setelah toko tutup.
  2. Nilai stok dengan harga beli, bukan harga jual. Memakai harga jual membuat stok akhir terlalu besar dan HPP terlalu kecil.
  3. Keluarkan barang rusak dan kedaluwarsa dari hitungan, lalu catat nilainya. Kalau angkanya besar dari bulan ke bulan, itu tanda ada yang perlu dibenahi di cara menyimpan atau membeli barang.

Kesalahan umum saat menghitung HPP

  1. Lupa bahan kecil dan kemasan. Gula, sedotan, plastik, stiker, dan karet gelang terlihat sepele, tetapi bisa mencapai ratusan rupiah per produk.
  2. Memakai harga beli lama. Kalau harga bahan naik dan HPP tidak diperbarui, margin turun diam-diam. Perbarui setiap kali harga pemasok berubah, atau minimal sebulan sekali.
  3. Tidak menghitung susut. Bahan yang tumpah, gagal produksi, atau kedaluwarsa tetap sudah dibayar.
  4. Tidak memasukkan tenaga sendiri. Kalau Anda yang membuat produknya, tenaga itu tetap ada nilainya. Masukkan sebagai upah di HPP lengkap atau sebagai upah pemilik di titik impas.
  5. Menilai stok dengan harga jual. Hasilnya HPP terlalu kecil dan laba terlalu besar.
  6. Mencampur belanja pribadi. Belanja dapur rumah yang dibayar dari uang usaha membuat HPP terlihat lebih besar.
  7. Lupa komisi dan ongkos kirim saat menentukan harga. Keduanya bukan HPP, tetapi tetap mengurangi uang yang Anda terima.

Menghitung HPP dari catatan di Budgetku

Stok opname dan HPP per unit tetap Anda hitung sendiri dengan rumus di atas. Catatan di aplikasi keuangan UMKM Budgetku membantu bagian yang paling sering berantakan, yaitu angka pembelian:

  1. Buat kategori pengeluaran tersendiri, misalnya Bahan baku, Kemasan, Barang dagangan, dan Ongkos angkut pembelian. Setiap transaksi pengeluaran wajib memakai kategori, jadi pembelian terkelompok sejak dicatat.
  2. Catat setiap belanja dan lampirkan foto notanya. Lampiran struk tersedia di semua paket, termasuk Free.
  3. Catat uang retur dari pemasok sebagai pemasukan dengan kategori sendiri, supaya mudah dikurangkan dari pembelian.
  4. Catat penjualan sebagai pemasukan, misalnya total per hari.
  5. Di akhir bulan, buka Laporan dan pilih rentang tanggal satu bulan. Laporan pengeluaran per kategori menunjukkan total pembelian untuk dimasukkan ke rumus HPP per periode.

Kalau Anda lebih nyaman menghitung di spreadsheet, template laporan keuangan UMKM bisa dipakai sebagai titik awal. Mulai paket Pro, transaksi dan laporan bisa diekspor ke CSV, atau disinkronkan ke Google Sheets.

FAQ

Apa beda HPP dan harga jual?

HPP adalah biaya langsung untuk menghasilkan atau membeli barang yang terjual. Harga jual adalah harga yang dibayar pembeli. Selisihnya adalah laba kotor, yang masih harus menutup biaya lain seperti sewa dan iklan.

Apakah gaji karyawan masuk HPP?

Upah orang yang langsung membuat produk, seperti barista atau juru masak, boleh dimasukkan ke HPP lengkap. Gaji kasir, admin, atau kurir dicatat sebagai beban operasional. Yang penting caranya konsisten setiap bulan.

Apakah sewa tempat usaha masuk HPP?

Sewa dapur atau ruang produksi yang hanya dipakai untuk membuat produk bisa dimasukkan ke biaya produksi. Sewa toko atau kios untuk berjualan dicatat sebagai beban operasional, lalu diperhitungkan lewat titik impas seperti di contoh Kopi Teras.

Berapa margin yang ideal?

Tidak ada satu angka yang cocok untuk semua usaha. Cara yang lebih berguna adalah mengecek dua hal: apakah margin per produk cukup untuk menutup biaya bulanan di penjualan yang realistis, dan apakah harga jualnya masih masuk akal dibanding pesaing di sekitar Anda.

Seberapa sering HPP perlu dihitung ulang?

Setiap kali harga bahan atau barang dari pemasok berubah cukup besar, dan minimal sebulan sekali. HPP per periode dihitung setiap bulan bersamaan dengan stok opname.

Apakah usaha jasa punya HPP?

Biasanya tidak dalam bentuk barang. Usaha jasa tetap bisa menghitung biaya langsung per pekerjaan, misalnya bahan habis pakai dan upah per proyek, lalu memakainya untuk menentukan tarif dengan rumus margin yang sama.

Mulai catat keuangan Anda di Budgetku

Paket Free gratis selamanya, tanpa kartu kredit: akun dan transaksi tanpa batas, anggaran bulanan, serta laporan cashflow.